Pratinjau!

¿Dunia ini sudah sesak oleh manusia-manusia tanpa kepala, beberapa ekor kucing, lalat-lalat yang mengaku diri sebagai nyamuk sedangkan nyamuk sendiri sudah bertobat sebagai nyamuk, tetangga planet yang sedang berdemonstrasi di dunia manusia, suara-suara radio yang kebingungan, dan beberapa masalah asmara yang sedang melanda sekolompok serangga?

***

Saya baru saja bangun dari tidur yang berkepanjangan hari ini. Merapikan celana yang sempat kabur selama tuannya sedang memeluk orang lain. Membiarkan telinga mencari sumber sebuah suara, entah milik setan beraliran apa yang iseng melakukannya. Perlahan-lahan turun dari ranjang. Berlangkah dari tempat tidur sambil menendang beberapa ember yang berserakan di lantai.

Iklan
Standar

Kebenaran Itu Ada di Seberang, di Sini Kita Hanya Memeluk Bangkainya Belaka!

Sebelum memulai basa-basi murahan ini, saya sudah pulang dari Gereja pada pagi hari tadi. Di sana saya bertemu Tuhan kita. Kata-Nya hari ini Beliau lagi kurang enak badan. Demam dan sedikit pilek. Kamu bayangkan saja jika Beliau pilek, pasti hidungnya memerah dan bersin-bersin. Tentu saja saya akan dinilai anak yang kurang sopan kalau berani menutup mulut dan hidung ketika Beliau batuk atau bersin. Sebab hal itu sama sekali tidak pantas dilakukan di hadapan Tuhan.

Kami memperbincangkan banyak hal mulai dari hal yang kacangan sampai pada persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara. Topik terakhir ini sungguh menguras energi dan konsentrasi saya. Dia lebih cenderung bermonolog. Menguasai sepenuhnya lintas pembicaraan. Saya patuh saja atau pura-pura mengerti dengan sesekali mengeryitkan kulit dahi. Seolah-olah perkataan-perkataan-Nya itu dapat saya pahami semua. Kedua tangan saya bergantian menopang dagu selama berpuluh-puluh kali. Bahkan saat itu sempat terlintas dalam benak saya untuk mendengarkan celotehan-Nya sambil tidur-tiduran di lantai. Sekali lagi saya tidak mungkin berani melakukannya. Takut mendapat tamparan atau paling banter ditendang keluar dari rumah-Nya.

Mendengarkan Beliau berbicara selama berjam-jam itu benar-benar membosankan. Terlalu kering karena tidak ada sesajian ringan yang bisa dinikmati. Kerongkongan saya menjadi getir sedangkan perut mulai berorkestra riuh. Untuk mencegah kemarahan-Nya, saya menciptakan teknik mengelabui dengan cara pura-pura batuk beberapa kali ketika misalnya mulai terdengar bebunyian dari dalam perut. Kau tahu, keringat dingin membasah di dada dan telapak tangan saya.

Sebenarnya sih saya lebih mengharapkan Beliau mempunyai inisiatif semisal menyuruh saya mengambil sendiri sebotol bir dan sebungkus roti di kulkas pribadi-Nya. Tapi itu pun belum juga muncul dari mulut-Nya. Mau pingsan di hadapan-Nya, tidak enak. Lebih baik bertahan saja. Barangkali Beliau akan berhenti dengan sendirinya atau sekurang-kurangnya kelelahan. Dalam hati saya berdoa agar hal itu sungguh-sungguh terjadi.

Entah tersebab apa, tiba-tiba Beliau merasa bahwa segala hal telah selesai diceritakan kepada saya. Ada perasaan kurang enak ketika melihat Beliau tidak ingin bicara lagi dengan saya.

“Kamu sebaiknya pulang saja. Saya sudah capek!”

“Tapi, saya masih ingin mendengarkan cerita-cerita lain dari Tuhan. Kenapa Tuhan tidak mau bercerita lagi?”

“Adakah yang salah dengan tingkah laku saya sedari tadi? Saya mendengarkan sungguh-sungguh, Tuhan. Sumpah mati!”

Beliau tetap tidak mau bicara apa-apa lagi dan menyuruh saya segera pergi dari rumah-Nya. Dalam hati saya mulai menduga-duga, jangan sampai doa saya tadi telah dikabulkan-Nya. Oh, Tuhan. Terima kasih!

Kemudian saya beranjak dari rumah-Nya dan segera berlari ke sebuah warung kecil, tidak jauh dari tempat tinggal Tuhan. Di sana saya memesan makanan sebanyak-banyaknya. Selama makan berlangsung saya mulai menceritakan sifat buruk Tuhan kepada sang pemilik warung. Mulai dari awal sampai akhir terutama kebiasaan-Nya yang suka mendominasi pembicaraan. Bahkan saya pun memberi saran kepada pemilik warung untuk jangan sekali-kali pergi ke tempat tinggal Tuhan. Saya sendiri tidak ingin penderitaan yang sama dialami oleh pemilik warung itu jika suatu saat ia berani bertamu ke rumah-Nya.

Setelah selesai makan saya merasa sangat haus sekali dan meminum air sebanyak-banyaknya pula. Saya pun tidak lupa membagikan kepada pemilik warung kiat-kiat menghindari Tuhan yang suka menciptakan kesengsaraan karena harus mendengarkan Beliau berbicara dalam waktu yang sangat lama.

Hari makin panas. Langit tak berawan sedikit pun. Tugas-tugas kuliah masih menumpuk. Saya harus pulang ke tempat tinggal saya.

Ketika saya hendak mengambil uang dari saku celana, tiba-tiba pemilik warung melarang uang itu diberikan kepadanya.

“Tidak usah. Makananmu tadi telah dibayar lunas oleh seseorang. Kamu boleh pulang sekarang.”

Si pemilik warung juga masih sempat memberikan sebotol bir untuk saya bawa pulang ke rumah. Berjaga-jaga barangkali saya mengalami  kehausan selama dalam perjalanan.

Akan tetapi, hati saya menjadi tidak tenang sepanjang perjalanan pulang. Bertanya-tanya tentang siapa sesungguhnya seseorang yang telah sudi melunasi biaya makanan saya di warung itu. Barangkali ada seseorang atau seseorang yang lain di dalam diri saya yang telah membayarnya. Jika itu Tuhan, semoga Beliau lekas sembuh dan jika seseorang yang lain, saya tidak tahu mau bilang apa kepadanya. *

*Gang Mavia, 30 September 2080.

 

 

Standar

MPANTUNG

“Sebaiknya kau segera pulang minggu ini. Orang-orang di kampung benar-benar menunggumu. Kalau tidak kau bakal kena kutukan. Dibuang, dianggap mati!”

Begitulah desakan Beko kepada kawan seperantauannya, Lanur. Sebenarnya itu lebih menjadi ajakan yang dibayang-bayangi dengan sebuah kecelakaan kepada Lanur. Tapi Beko merasa iba juga dengan sahabat atau tepatnya saudaranya itu. Bukan soal pulang atau tidak, Beko lebih mendoakan agar Lanur Leros, demikian sapaan masa kecilnya, bisa menentukan keputusan dengan bebas.

Kisah ini sesungguhnya tidak pernah menjadi buah bibir jika dua orang lelaki putus asa tersebut serempak mendarat ke kampung halamannya pada musim kering, tepat saat padi walanai[1] siap dipanen.

Secara turun-temurun orang-orang di kampung Lago merayakan upacara teing hang[2] kepada Ѐmpo Mpantung[3] tiap empat tahun sekali. Itulah alasan Beko mengajak saudaranya itu sebab ia pernah mendengar kabar bahwa orang-orang yang ada di kampung tidak lagi terlalu peduli dengan acara adat tersebut. Beko merasa bertanggung jawab menjaga nilai-nilai tradisi, tetapi ia merasa cukup sulit karena takdir justru meyuruhnya menjadi kuli pelabuhan di sebuah kota metropolitan. Sementara Lanur sendiri merupakan keturunan langsung Ѐmpo Mpantung tepatnya generasi ke seratus lima puluh tiga.

***

Dua puluh empat tahun yang lalu Beko tiba-tiba muncrat begitu saja ke dunia. Bukan dunia tapi sebuah kampung yang belum tersentuh cahaya dan aspal. Kenyataan ini kemudian masih berlangsung hingga puluhan tahun kemudian. Ia lahir dari seorang ibu tanpa ayah yang jelas. Bahkan tragisnya ia sendiri tidak pernah merasakan pelukan dan air susu ibu kandungnya. Malam itu setelah kemaluan ibunya memuntahkan dia ke dunia, di atas sebuah tikar bekas jemur padi, Beko seolah-olah merasa asing dan menyesal dan memang itulah yang berkelindan di hatinya selama belasan tahun kemudian. Tak tahu diuntung, ibunya malah melarikan diri ke sebuah dunia yang tak pantas diceritakan di sini.

Sebuah cerita berkembang kemudian bahwa ibunya tidak tega menggorok anaknya setelah dilahirkan karena tertimpa trauma diperkosa oleh seorang lelaki keturunan Kraeng[4]. Ibu Beko tidak ingin menjadi lalat yang menyebarkan penyakit bagi orang-orang di sepenjuru kampung. Bagaimanapun ia sadar waktu itu bahwa seekor lalat tidak dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Ia sadar betul tentang hal itu. Jelaslah nasib Beko terluntang-lantung begitu saja. Ajaibnya ia, setelah dilahirkan tidak memekikan tangisan apa pun.

***

Pagi harinya seorang lelaki paruh baya hendak mencari pakan sapi di perkebunan salah seorang warga, yang konon tidak habis-habisnya meski dibabat berkali-kali oleh hampir seluruh warga yang punya piaraan ternak. Seperti biasa lelaki itu, bukan lelaki pemerkosa ibu Beko, selalu menggulung selembar tikar berukuran sedang untuk menyimpan rupa-rupa pakan ternak. Namun pagi itu ia merasa ada sesuatu yang aneh. Diciumnya aroma darah segar dan menemukan beberapa gumpalan darah membeku di bagian tepi tikar itu. Ia sempat menduga barangkali semalam ada babi hutan yang terluka dan memilih beristirahat sejenak sebelum melarikan diri. Bukan babi hutan! Serentak lelaki paruh baya itu hampir terguling setelah menyingkap ujung tikar yang digulung itu dan menemukan orok bayi sedikit kaku. Awalnya ia mengira bahwa orok itu sudah putus napasnya. Ternyata tidak. Diperhatikannya mata bayi itu, masih berkedip. Dirabanya pula nadi pergelangan tangannya, masih berdenyut. Lantas, ia segera mengumpat sekeras-kerasnya: anjing siapa yang memuntahkan orok yang masih bernyawa ini di atas tikar pakan sapinya yang juga sesekali menjadi alas padi yang dijemurnya?

Keharuan tiba-tiba meliputi relung hati lelaki paruh baya itu. Ia bertekad memelihara bayi lelaki itu dan segera memungutnya tanpa intro yang terlalu dramatis. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah lelaki itu berusaha menghibur bayi yang ditemukannya, yang sebenarnya lebih menjadi hiburan untuk dirinya sendiri tersebab rasa prihatin yang membludak dari hatinya. Tentu saja bayi itu tidak meneteskan air mata sedikit pun seakan-akan ia sudah terbiasa menanggung rasa sesal untuk dilahirkan ke dunia sejak dalam kandungan ibunya.

Bertahun-tahun kemudian bayi yang nyaris menjadi santapan serigala itu, ini semacam dugaan saja, bisa tumbuh dengan baik seperti anak-anak lainnya. Ia tidak kenal putus asa, tidak malu atau tersinggung sedikit pun juga tidak. Sesekali saja ia merasa sedih, itupun kalau ayah dan ibunya pergi ke kota kabupaten selama beberapa hari. Sifat-sifat itu dibentuk berkat tangan dingin seorang lelaki yang menyelamatkannya dulu, yang sekarang menjadi ayahnya.

Suatu waktu ia memiliki nama, Beko yang artinya permata tetapi ia sendiri baru mengetahui arti namanya setelah setahun di tempat perantauan.

***

“Kalau kau tidak ingin pulang atau hatimu sudah benar-benar tidak berisi lagi, biar aku sendiri saja yang pulang”, tegas Beko kepada saudaranya itu. Sudah berkali-kali ia melontarkan permohonan agar Lanur bisa bersamanya pulang ke kampung halaman.

Tak ada jawaban yang meluncur dari mulut Lanur sampai esok harinya. Tiba-tiba sebelum Beko benar-benar berangkat meninggalkan gubuk peristirahatan mereka selama hampir empat tahun itu, Lanur mendekati Beko dan memeluknya.

“Tentu kau tahu Beko. Aku ini tidak lagi memiliki ayah dan ibu seperti dirimu karena kita sama, bersaudara. Sampaikan saja salamku kepada paman yang menjabat sebagai tu’a golo[5] saat ini. Sempatkan dirimu ke makam ayah dan ibu dan bakarlah surat ini bersama arang hitam tepat di kaki mereka,” Lanur tak sanggup lagi berbicara terlalu banyak dan menyelipkan sepucuk surat kusam ke telapak tangan Beko. Kelopak matanya menerjunkan aliran air mata sederas-derasnya. Dalam hati ia sungguh berduka atas peristiwa lima tahun lampau ketika ia diam-diam meracuni ayah ibunya karena sebuah desakan untuk mengharuskan dirinya menjadi pemangku tu’a golo, sesuatu yang sama sekali tidak dikehendakinya. Ia juga mengingatkan kepada Beko untuk tidak boleh membuka dan mengetahui isi surat itu sampai habis terbakar api.

***

Orang-orang di kampung telah menunggu kepulangan Lanur dan Beko, tetapi seturut kebijakan yang diambil, hanya Beko-lah yang memilih pulang. Seolah-olah sosok Lanur terwakili dalam diri Beko daan orang-orang di kampung sungguh-sungguh terkejut menyaksikan hal itu. Begitu pula tu’a golo yang pura-pura menayangkan kesabaran meskipun di dalam hatinya telah meradang perasaan benci sebenci-bencinya.

Beko langsung bergegas menjumpai tu’a golo untuk menyampaikan kondisi Lanur, sang pewaris keturunan Ѐmpo Mpantung perihal ketidakpulangannya. Tu’a golo mengangguk perlahan dan memaklumi alasan keponakannya itu. Tapi itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja seorang lelaki paruh baya menghampiri Beko dan mencekik lehernya sekuat-kuatnya. Ia tidak berdaya untuk membebaskan diri sebab cengkeraman telapak tangan lelaki itu benar-benar membuatnya sesak napas. Lantas dalam cekikan itu ia kembali teringat sejarah hidupnya ketika pertama kali lahir dan dibesarkan oleh lelaki paruh baya, ayah Lanur, yang menjadi ayahnya juga bertahun-tahun kemudian.

Sebelum tersungkur pingsan samar-samar ia mendengar umpatan dan kata-kata kutukan para tetua adat. Bakar saja orang ini. Anak durhaka. Jahanam. Tak tahu diuntung. Pembawa sial bagi keselamatan kampung.

Sampai langit malam tersingkap Beko kemudian tersadar dan memperhatikan bajingan-bajingan tengik yang menyiksa dan mengelilingi dia selama sepanjang hari tadi telah berlalu. Ia hanya seorang diri saja di tengah halaman kampung. Ia berdiri terseok-seok dan duduk bersandar di atas susunan batu penyangga ngadu[6]. Tubuhnya tercabik oleh luka. Darah membeku di sekujur dada, pipi, dan punggungnya.

Sisa-sisa tenaga yang masih menempel menyeret tubuh Beko pergi ke makam ayah dan ibu Lanur untuk membakar sebuah surat yang dititipkan anak mereka, Lanur. Di tengah malam dan kesunyian yang mencekam kampung terpancar kilatan api yang menghanguskan sepucuk surat itu tepat di kaki makam kedua orangtua Lanur yang juga memeliharanya dengan penuh kasih sayang.

Tidak ada gunanya menjadi lelaki sial di muka bumi ini. Menanggung sial meskipun hati berniat lurus. Sebuah rasa penasaran sekaligus sebagai hiburan setelah tertimpa kecelakaan, Beko ingin mengetahui isi surat saudaranya itu, tetapi ia baru sadar bahwa surat itu telah halus menjadi serpihan abu hitam. Tidak butuh pertimbangan terlalu lama, Beko akhirnya ikut membakar dirinya bersama sisa bekas surat itu tepat di kaki makam kedua orangtua Lanur.

Perlahan-lahan isi surat Lanur bisa dibacanya bersamaan dengan jilatan api yang menghangsukan tubuhnya dan ia baru paham bahwa maksud Lanur mempertahankan diri untuk tidak pulang tidak lain karena para tetua adat di kampungnya sama sekali tidak menginginkan Lanur pulang membawa segepok gaya hidup atau ideologi yang berseberangan dengan tradisi kampung. Sebab di mata para tetua adat dan atas persetujuan tu’a golo, setiap lelaki yang tidak betah di kampung halaman dianggap pengkhianat dan harus disingkirkan kalau berani untuk pulang.

***

Lanur tetaplah Lanur meskipun arti nama itu berasal dari keturunan langsung Ѐmpo Mpantung yang ke seratus lima puluh tiga. Dan Beko sendiri tidak punya nilai apa-apa di hadapan orang-orang yang telah dianggap sebagai saudara-saudara sedarahnya meskipun ia punya niat luhur menjaga nilai-nilai kehidupan di kampungnya itu. Baginya kehidupan yang damai dan jauh dari pertentangan merebut kekuasaan adat lebih mulia standarnya ketimbang menghabiskan waktu dengan mempertebal dendam dan persengkongkolan kejam. Tidak salah jika Lanur memilih untuk tidak kembali meskipun ia pernah melakukan kesalahan terbesar membunuh ayah dan ibunya hanya untuk menjauhkan diri dari desakan mempertahankan kekuasaan. Tapi Beko lebih permata dan lebih bercahaya di tengah kampung itu sebelum dan setelah dirinya hangus dimangsa api menjadi abu pekat.*

Keterangan:

[1] Sejenis padi yang biasa ditanam oleh para petani di Manggarai, NTT yang memiliki keunggulan dan daya tahan tinggi untuk tumbuh dengan baik.

[2] Ritus memberikan sesajian kepada para leluhur di daerah Manggarai, NTT.

[3] Salah seorang leluhur yang berhasil mendirikan kampung Lago, di manggarai.

[4]Gelar yang diberikan kepada orang yang masih memiliki darah bangsawan.

[5] Pemimpin tertinggi dalam sebuah beo atau kampung yang bertugas mengakomodasi kepentingan warga kampungnya.

[6] Pelataran yang ditumbuhi pohon beringin besar dan berada di tengah-tengah kampung. Biasanya penempatan sesajian dan acara adat lainnya berlangsung di tengah pelataran ini.

Standar

TIDAK PERLU GELISAH DI HADAPAN CERMIN

Aku ingin mengajak anda untuk berwisata di Telaga Pikiran yang berlokasi di kepalaku sendiri. Pertama-tama anda tidak boleh keberatan dengan ajakan ini. Sebab ini kali terakhir tiket perjalanan sia-sia dibuka secara gratis. Sebuah keberuntungan yang tidak terulang lagi untuk kali kedua dalam kebebalan hidup anda. Tanggalkan pikiran semrawutmu itu dan lekaslah segera untuk berangkat bersamaku. Tentu anda tahu bahwa setiap manusia mempunyai pikirannya sendiri-sendiri, aku dan anda. Tetapi pikiranmu sudah tidak ada lagi. Aku selalu ada dengan pikiranku. Begitu pula sebaliknya.

Aku adalah lelaki. Tidak sembrono atau apa pun yang ada di galon kepalamu itu. Semestinya engkau menggunting kepalamu sekarang juga. Tidak perlu berbasa-basi sebab hal itu hanya  semakin mempercantik ketololanmu di hadapanku yang licik.

Aku adalah lelaki!

***

“Minak, apakah engkau pernah berdandan di hadapan cermin yang retak-retak?” celetuk Mintuk kepada kekasih yang baru dipacarinya sehari lalu dan berniat menggoroknya selama sepuluh hari ke depan.

“Iya Bang. Seorang perempuan seperti aku pasti selalu bercermin. Ibuku yang sudah meninggal tiga ratus tahun lalu pernah memberikan cermin kepadaku saat aku berusia tiga bulan,” jawab Minak kepada kekasih yang dianggapnya seperti gelas pecah-pecah itu.

***

Pertengahan cerita ini menyelipkan kewibawaan seorang ibu yang memilih bunuh diri di hadapan seorang cermin yang meremukannya berkeping-keping. Seorang ibu tulen yang pernah membunting sembilan belas anak kembar di dalam rongsokan perutnya. Suaminya adalah seorang cermin yang menjadi lelaki gelap sepanjang usianya. Ia mati sebagai seorang martir disaksikan oleh seorang cermin, lelaki yang retak-retak.

Lelaki yang menjelma seorang cermin selalu alpa setiap kali Ibu sembilan belas anak kembar itu bergairah, entah malam entah siang. Gelap dan kabut menjadi mata-mata yang bertiarap di sela-sela ketiaknya. Dunia ini bagaikan neraka dan sungguh jahanam. Kebengisan meliuk-liuk di leher Ibu sembilan belas anak kembar itu entah kapan saja ketika mimpi basah tidak lagi mencuat selokan selangkangannya. Ibu sembilan belas anak kembar itu paham betul semua soal yang menimpa dirinya dan bagaimana ia menikmati partikel-partikel kentutnya sendiri saat sedang melahirkan sembilan belas anak kembar yang tidak terlalu buruk rupa seperti yang diduga banyak orang. Tentu saja hal ini tidak berlaku pada suami Ibu sembilan belas anak kembar itu. Ia tidak paham tentang kecantikan perempuan mana pun. Itulah alasan bagi sang Ibu untuk mencintai sekaligus membenci suaminya secara serempak.

***

Kita baru saja melewati pertengahan perjalanan cerita ini menuju pikiranku. Kelelahan atau kehausan yang sengaja diciptakan tidak diizinkan dalam perjalanan ke sana. Itu hanya semakin memboroskan anggaran saja. Tujuan kedatangan kita ke sana hanya untuk memastikan apakah kehidupan seorang perempuan yang pernah membocorkan sembilan belas anak kembar itu tidak pernah tua atau sekurang-kurangnya masih hidup.

Sejarah yang diwariskan oleh begundal moyang kita hanyalah sebagian kebenaran penuh kebohongan belaka. Sepanjang kita hidup perempuan-perempuan yang manis-manis selalu ditimbang dari seberapa sering ia bersolek di depan cermin tentunya. Aku sendiri tidak bermaksud memaki kepengapan borok-borok moyang kita sekarang. Alangkah baiknya ditunda saja sampai kita benar-benar menemukan kebenaran sendiri sesampainya di tempat tujuan kita.

***

Dunia ini begitu sempit. Hanya sebatas dan sejauh mata lelaki memandang. Yang terpanjang pun hanya kalau lelaki-lelaki itu mulai mengajak brengsek perempuannya di hadapan cermin-cermin retak. Aku sering menemukan keanehan-keanehan yang masuk akal dan membuatku lari terbirit-birit sambil mengencingi muka sendiri. Suatu ketika entah kapan aku menemukan seonggok kekasih saling memuji yang disaksikan oleh seorang yang lain tentunya: cermin.

Sampai di sini aku selalu menganggap cermin adalah jelmaan seseorang yang muncul begitu saja di dunia kita. Boleh dibilang di luar skenario, tetapi penting untuk diulas dalam cerpen ini. Perempuan itu meraba-raba dirinya di hadapan cermin. Kutangnya dikencangkan sambil memastikan tirai yang menutup dinding bokongnya tertutup rapat. Tentu hal ini semakin membuat gumpalan bokongnya sesak napas. Apalagi potongan kain yang dipakainya sangat sumpek. Tidak ada kemerdekaan di sana, bagi tubuh perempuan itu maupun bagi kain itu sendiri. Sementara cermin itu hanya bergumam saja dalam hatinya tanpa bersuara apa pun.

Ia memutar tubuhnya bolak-balik seperti seorang penari balet yang hampir terpeleset karena salah mendarat. Tidak puas dengan itu, ia membelokkan lehernya hampir searah bahu kirinya sekedar untuk meneliti kemiringan dan keruncingan bokongnya. Sebab kalau tidak ia pasti mengumpat, anjing! kepada seorang cermin yang gagal menjadi juri baginya.

Selama delapan belas jam lamanya, perempuan itu sibuk mengukir dirinya di hadapan seorang cermin. Di luar ramalannya, tiba-tiba saja dirinya terbelit dan memperhatikan ia dikebiri begitu saja oleh seorang yang  lain yang disebut kekasihnya itu, lelaki peranakan batu kapur yang terdampar di hutan dan menyelusup masuk ke pemukiman hanya untuk mencekik pantat perempuan itu. Ini sejenis kemaluan yang sudah kebal malu dan membuat kepalaku bengkak hampir bertahun-tahun. Ia mengerat sepenuhnya bagian belakang tubuhnya hingga perempuan itu lunglai dan beku. Jiwanya tidak lagi bersemayam di dalam tubuhnya sebab tubuhnya itu penuh dengan kebopengan dan kepalsuan lipstik serta aneka bumbu pengawet buatan pabrik. Sebuah penyelidikkan pihak berwenang setempat mencatat bahwa alasannya cukup menggelikan otot perut. Seorang lelaki yang sudah diungkapkan identitasnya di awal cerpen ini sungguh-sungguh membenci cermin yang menjuri kecantikan perempuannya, tetapi ia memelihara cermin lain di dalam dirinya.

***

Sudah hampir empat puluh tahun Minak merayakan usianya. Tubuhnya sedikit memancarkan kelapukan. Rambutnya berwarna kebingungan. Ia selalu sungkan dan segan terhadap perempuan lain, kadang pula kepada lelakinya.  Keuzurannya hanya menampilkan penundaan untuk diseberangkan oleh petugas piket dari neraka atau surga yang tampak selalu terlibat dalam perkelahian berdarah-darah sampai benar-benar memborgol tamu istimewanya ke apartemen masing-masing.

Setiap hari ia dan Mintuk mengalami peningkatan indeks kebahagiaan. Kerapkali keduanya saling mencubit ujung hidung atau mengukur diameter lubangnya. Yang paling sering Mintuk diminta mencukur semua jenis kategori bulu yang menjalar liar di segala liang terutama bagian ketiaknya. Jika Mintuk usai menunaikan kewajiban sukarelanya, Minak pasti meneliti kembali apakah sudah  sungguh-sungguh gundul atau masih perlu dibabat lagi oleh Mintuk. Bagi mereka hidup itu terasa berongga kosong kalau tidak disertai dengan aksi saling mencubit dan mengukur diameter hidung. Aksi mencukur segala kategori bulu pada tubuh Minak tidak termasuk romantisme surealis yang sesungguhnya karena hanya dilakukan oleh Mintuk sendiri tanpa pernah meminjam kedua tangan gaib pemilik bulu-bulu itu.

Perasaan Mintuk semakin membuncah di hadapan kekasihnya. Tentu saja  Mintuk tidak terlalu merepotkan dalam menyebut Minak sebagai kekasih atau isterinya. Baginya Minak tetaplah Minak. Bahkan Minak pernah menghadiahi dirinya kutang kembar. Satu untuk dipakai Minak dan satunya lagi digantung di dinding. Hal ini patut disyukurinya dari pemberian Minak. Bila Mintuk hendak menggenggam Minak, ia wajib mengenakan kutang kembaran itu. Itulah peraturan dalam rumah tangga reot yang lebih pantas disebut bukan rumah tangga itu.

Suatu malam yang tidak terlalu gelap, Minak bangkit dari kematian mimpinya. Ia bergegas begitu saja mencari kembali potongan cermin yang pernah diberikan oleh ibunya. Entahlah. Cermin secara kodratiah selalu beruntung daripada yang penulis atau pembaca cerpen ini dalam menyaksikan kebugilan perempuan mana pun di dunia ini. Selalu begitu dan ini pula yang sedang terjadi pada diri Minak. Malam itu ia merasa dirinya digorok oleh suaminya berkali-kali. Anehnya lehernya tidak putus-putus meskipun Mintuk menggergaji kerongkongannya. Teringatlah Minak bahwa sebelum kejadian keji itu berlangsung ia sudah melenggok di hadapan seorang cermin. Bahkan kesaktian Minak di hadapan Mintuk semakin bertambah ketika ia menyadari dirinya tidak memakai apa pun di sepanjang kelokan tubuhnya. Ia percaya cermin yang menghalaukan semua itu sehingga ia tidak terluka sedikit pun.

***

Akhirnya kita sudah tiba dengan kelengkapan tubuh di tempat yang aku maksudkan di awal kisah ini. Engkau tahu bahwa perjalanan itu ke mana pun arahnya tidak perlu terlalu berbelit-belit. Kesusahan itu akan menjadi beringas di dalam diri kita apabila kita terlampau repot pada segala sesuatu yang memalsukan keaslian diri kita. Sampai di sini kita sepakat bahwa segala sesuatu yang selalu memalsukan disebut cermin.

Hidup itu serupa kebiasaan yang tidak terlalu memerlukan ukuran dalam bentuk apa pun.

Kita akan kembali ke tempat di mana kita memulai kisah ini barang sepuluh menit menit mendatang dan tetap bersabar di dalam penantian. Nanti engkau juga akan memahami dengan baik bahwa penantian itu hanyalah cara lain mengarahkan pandangan ke bagian belakang tubuhmu. Di situ engkau menungguku sesaat saja sementara aku masih di sini sambil memulai lagi kisah sia-sia ini sedari awal. Sesungguhnya aku ditugaskan untuk merangkai keretakan sebuah dongeng dari begundal-begundal kita. Sebuah penelusuran yang sia-sia juga seperti kualitas tiket yang pernah kau peroleh.

***

 

 

 

Standar

KESESATAN !

 

“Apa yang kalian sebut kebenaran?

Kesesatan yang berabad-abad usianya.

Apa itu kesesatan?

Kebenaran yang dialami hanya semenit” – Spinoza.

 

Kesesatan! Saya mengalami kebingungan akut ketika memikirkan judul terbaik dalam tulisan ini. Memilih judul seperti yang tertempel di atas merupakan hasil dari sebentuk proses kesesatan. Tetapi saya bisa menikmatinya atau harus menganggapnya senikmat mengunyah permen Mintz yang tidak terlalu baik untuk kesehatan karena lebih banyak menimbulkan flu dan mega-megap. Tentu saja ini secuil dari tumpukan pengalaman saya ketika pertama kali masuk sebuah rumah makan hanya ingin merasakan sensasi lain. Saat itu saya tidak datang dengan seorang perempuan, tetapi saya menyaksikan ada begitu banyak perempuan berderet menanam pantat mereka di kursi panjang.

Jangan terlalu serius dengan hidup ketika Anda diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini. Keseriusan yang direkayasa atau paling kurang secara terpaksa merupakan sejenis aliran penyakit. Banyak di antara kita yang mengidap hal ini. Penyakitan karena terlalu serius. Padahal hidup itu begitu sederhana. Hanya menghirup dan menghembuskan napas. Siapa yang pernah melihat kematian seseorang dalam keadaan sekarat? Seseorang yang hendak mati karena telah sekarat dan berkarat sekalipun pasti sangat menikmati detik-detik terakhir dalam hidupnya. Sementara orang-orang sehat di sekitarnya terkadang mengalami sesak napas dan jantung yang tidak terlalu sedap dalam mengeluarkan bunyi.

Opa Baruch de Spinoza yang hidup dari tahun 1632-1677 tidak terlalu merepotkan diri dalam menjalani kehidupannya. Lelaki yang lahir di Amsterdam pada 24 November ini hidup dalam suatu tradisi takhayul dan tabu-tabu religius yang diwariskan oleh nenek moyang dan orang-orang idiot di sekitarnya. Ia tidak puas apalagi betah dengan keadaan seperti ini. Secara perlahan dan bersungguh-sungguh ia berusaha membebaskan diri dari kegelapan ini. Ia ingin mengecap kebebasan berpikir. Pemberontakan terbesar yang pernah dilakukannya ketika ia dengan penuh keberanian menentang alam berpikir orang-orang idiot di sekitarnya yang tidak maksimal dalam berpikir.

Suatu ketika ia dibabat oleh orang-orang di sekitarnya dengan sebuah kutukan. Hal itu bermula dari tindakannya yang dianggap ceroboh dan berbahaya menurut teman-teman dan sejumlah tokoh agama pada masanya. Ia berpendapat bahwa malaikat hanyalah fiksi belaka dan Allah itu bersifat material. Bukankah tindakan seperti ini bagai pedang yang menggorok ketebalan jenggot para pemuka agama saat itu?

Ia dikutuk karena pikirannya yang menyesatkan. Tidak selesai sampai di situ, ia masih dikucilkan dari masyarakatnya. Pikiran-pikiran Spinoza hampir-hampir membuat para tokoh agama Yahudi mengalami kegelisahan tak terperikan. Dalam suatu kesempatan pula ia hampir mati tertikam pisau oleh seorang Yahudi fundamentalis dengan tujuan untuk menyenangkan hati Yahwe. Bukankah ini sebuah kesesatan yang sangat mencekam? Membunuh dengan modus menghibur Allah. Yang ini jelas-jelas sebuah libido dominandi.

Lebih menyakitkan lagi ketika ia dibuang oleh keluarganya sendiri. Ia dianggap mati. Namun ia menghadapi semua kebencian dan kemurkaan para pemuka agama, teman-teman, dan keluarganya sendiri dengan hati yang tenang dan santai. Ia tidak peduli dengan usaha-usaha konyol dari orang-orang idiot di sekitarnya. Terutama para pemuka agama yang sudah terlampau sesat dalam kegelapan yang paling gelap.

Sesuatu yang luar biasa dari Spinoza adalah kesetiaan untuk merawat dan mengabadikan pikiran-pikirannya. Ia mencintai serat-serat pikirannya sebanding dengan kualitas ketikdakpeduliannya pada orang-orang yang membencinya. Itulah Spinoza yang pernah mendapat tawaran dari sebuah universitas, tetapi ditolaknya dengan santai sebab itu sangat merugikan dirinya. Ia hanya setia dan tekun memelihara ide-idenya demi memperbaiki pikiran dari sebagian besar umat manusia yang sudah terlanjur tercebur dalam kesesatan.

Saya seringkali mengingatkan diri sendiri ketika dalam kesempatan hening bahwa ada kesesatan yang kadang tidak terdeksi dan saya sudah terjebak di dalamnya. Sebagai contoh, saya menilai sejumlah perempuan di warung makan tadi terlalu serius menanam pantat di kursi. Bukankah ini juga sejenis kesesatan yang barangkali hampir sama kualitasnya dengan para pemuka agama kita?

Saya tidak ingin Anda yang membaca tulisan ini ikut tersesat. Apalagi kalau saya mendapat kutukan manis dari Anda bahwa saya adalah orang yang amat tersesat. Tentu tidak dan sama sekali tidak saya harapkan. Kalau hal itu benar-benar terjadi, saya juga akan menganggap Anda lebih tersesat. Saya juga sering menduga bahwa orang-orang di sekitar kita terlalu amat sering tenggelam dalam kesesatan baik yang disadari maupun tidak. Itulah kesesatan dari sekian kesesatan yang melanda dan bergelimpangan meriahnya.

Suatu kali sebuah bangsa(t) Indonesia sedang mengalami begitu banyak kesesatan. Kesesatan yang sangat mencekam dan mengerikan. Saling meringkus dan meringkas. Saling melempar dan bersembunyi. Kemudian karangan bunga diletakkan sebagai ucapan belasungkawa atas bangsa(t) Indonesia yang sedang tersesat ini.

Itu saja yang bisa saya tuliskan kali ini. Semoga kita tidak mengalami hal-hal yang sungguh-sungguh menyesatkan!

 

Salam dan Doa!

 

Standar

MENGUMPAT SEBAGAI BAGIAN DARI DENDAM YANG PADAM DAN CINTA YANG TAK SELESAI

Judul : Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi

Penulis : Yusi Avianto Pareanom

Penerbit : Banana

Tebal : 450 halaman

ISBN : 978-979-1079-52-5

Cetakan : I, Depok, Maret 2016

Permulaan kisah dalam novel ini sebagai berikut; “Ambillah pisau dan daging paha sapi atau paha kambing yang tergantung di dapurmu. Tusukkan pisau ke daging. Bagaimana bunyinya? Jika tak ada daging, keluarlah ke kebun, cari pohon pisang, tikam batangnya. Jika kau tak juga mendapati pohon itu, bahkan pisau pun tak punya, kau kehilangan kesempatan mendengarkan salah satu bunyi paling empuk di telinga: jleb!”

Yusi Avianto Pareanom membuka keseluruhan dongeng ini dengan begitu apik dan memesona. Kecerdasan Yusi dalam menceritakan sebuah dongeng justru mulai diperlihatkan pada awal kisah. Permulaan dongeng sekilas tampak sederhana, tetapi mampu memancing hasrat keingintahuan pembaca tentang keberlanjutan cerita-cerita di dalamnya. Membayangkan bunyi  “jleb!” yang keluar dari gumpalan daging atau sebatang pohon pisang adalah sebuah pekerjaan yang sia-sia dan konyol. Bagaimana mungkin, sebuah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran itu harus dimulai dengan mengambil sebuah pisau dan mencari gumpalan daging atau pohon pisang. Sebab belum tentu pekerjaan itu bisa sukses dalam sekali tusukkan untuk menghasilkan bunyi paling konyol yang konon dinyatakan sebagai bunyi paling empuk di telinga.

Pada kisah awal Malam Celaka Yusi mempertontonkan adegan pengejaran terhadap Sungu Lembu dan Raden Mandasia pada suatu malam karena tertangkap basah sedang mencuri. Dalam pengejaran tersebut Sungu Lembu dan Raden Mandasia dihujani dengan berbagai tembakkan panah sampai akhirnya berhasil diringkus. Aneka siksaan kemudian menyusul seolah-olah tindakan mereka setimpal dengan darah yang mesti muncrat dari tubuh mereka. Sesungguhnya Sungu Lembu – yang menjadi tokoh pertama dalam novel ini – tidak ikut menanggung beban sial tersebut jika ia tidak memanut saja ajakkan Raden Mandasia untuk mencuri sapi milik Kerajaan Gilingwesi.

Raden Mandasia merupakan pangeran kedua belas Kerajaan Gilingwesi. Namun, ia memiliki kebiasaan ganjil – entah warisan dari  dewa atau setan apa – yaitu mencuri sapi. Kegemaran menggasak sapi yang dilakukan Mandasia sangat aneh terutama dalam ketegori mencuri. Sesungguhnya ia hanya menebas seekor atau beberapa sekaligus hanya untuk mengambil bagian lulur dengan cara yang tak lazim. Ia memotong seekor sapi dengan menggunakan pisau lengkung besar menyerupai golok, tetapi darahnya tidak pernah menetes sedikitpun dari leher sapi tersebut. Menurut kesaksian Sungu Lembu, Raden Mandasia sangat cekatan dan ahli dalam urusan membelah daging sapi. Bahkan Raden Mandasia sendiri memberi testimoni bahwa bagian lulur pada seekor sapi jika diolah dengan bumbu-bumbu yang pas kemudian dibakar setengah matang akan membuat para penikmatnya merasakan kedamaian adikodrati dengan Sang Penciptanya atau paling kurang mensyukuri bahwa ia memperoleh anugerah termahal karena ia tidak salah pantang daging.

Sementara itu, Sungu Lembu sendiri sebenarnya memiliki misi rahasia ketika datang ke Kerajaan Gilingwesi. Ia ingin menyatakan aksi balas dendam pribadi serentak mewakili orang-orang bekas kerajaan Banjaran Waru yang konon menjadi daerah taklukan Gilingwesi di bawah pimpinan Prabu Watugunung. Ia bercita-cita memenggal kepala pimpinan Kerajaan Gilingwesi itu sehingga ia mesti merapat ke sana. Namun, sebuah takdir justru mempertemukan dirinya dengan salah satu anak Watugunung bernama Raden Mandasia sampai terlibat dalam sebuah kejadian paling dongkol yaitu peristiwa penangkapan dirinya dan Mandasia pada malam hari karena menyembelih sapi istana.

Karakter tokoh sentral dalam dongeng ini mulai muncul dengan kekhasan masing-masing. Jika Raden Mandasia gemar mencuri sapi, maka Sungu Lembu sendiri mempunyai kebiasaan manusiawinya dengan mengumpat: Anjing. Anjing sekali. Benar-benar anjing! Hal itu sungguh wajar karena ia dalam upayanya mewujudkan aksi balas dendam tersebut justru seringkali menanggung kesialan-kesialan yang membuatnya sering mengumpat dengan kata “anjing!” baik secara langsung maupun didengungkan saja dalam hatinya.

Pada kisah Rumah Dadu Nyai Manggis Sungu Lembu mulai menerangkan identitasnya kepada seorang majikan rumah dadu bernama Endang Projowati. Pertemuan keduanya berlangsung alamiah sampai Sungu Lembu menaruh hati pada pemilik rumah dadu tersebut meskipun perbedaan usianya berjarak dua kali lipat saat dirinya berusia enam belas tahun. Sungu Lembu lahir di Banjaran Waru yang merupakan kerajaan taklukan Gilingwesi. Sesungguhnya Banjaran Waru tetap menjadi kerajaan yang punya harga diri seandainya Merak Abang yang memimpin daerah itu tidak patuh begitu saja pada kekuasaan Gilingwesi. Namun, Merak Abang tidak ingin menimbulkan korban atau kerugian bagi dirinya atau rakyat Banjaran Waru apabila ia terlebih dahulu melawan. Tentu saja hal tersebut menjadi pertimbangannya karena selama ini banyak kerajaan-kerajaan lain yang berusaha melawan, tetapi kalah dan rajanya langsung dihukum mati. Sebagain besar rakyat Banjaran Waru menggerutu dalam hatinya sebab mereka mungkin saja bisa menghalau kesewenang-wenangan Gilingwesi jika pimpinannya tidak menyerah segampang itu.

Di sisi lain Nyai Manggis, sapaan manis dari Raden Mandasia untuk Endang Projowati, juga mengungkapkan jati dirinya. Ia terdampar di rumah dadu tersebut karena diangkut oleh para prajurit Gilingwesi saat dirinya masih berusia remaja. Bahkan sebab utama penaklukan Banjaran Waru bermula dari kekacauan para prajurit bebal itu yang ingin ‘menikmatinya’. Hal itu justru semakin mempertebal hasrat membalas dendam dari Sungu Lembu terhadap Gilingwesi setelah mendengar kisah hidup Nyai Manggis. Tentu saja umpatan-umpatan “anjing” yang bermuasal dari hati Sungu Lembu semakin menggelora sepanjang niat membalas dendamnya itu belum terpenuhi.

Membaca novel ini semakin memastikan bahwa umpatan “anjing” yang muncrat begitu saja dari mulut Sungu Lembu hendak menyatakan jati dirinya yang sejak lahir sudah ada darah untuk membalas dendam kepada Gilingwesi. Sepanjang kesialan-kesialan yang menimpa dirinya dalam mewujudkan cita-cita luhurnya itu pasti diumpat dengan kata “anjing” meskipun “anjing” yang sesungguhnya adalah Prabu Watugunung. Rupanya pedang paling tajam untuk menyabet leher Watugunung untuk pertama kali adalah dengan mengumpatnya seketika dengan kata “anjing”. “Anjing” yang hidup dan keluar dari mulut Sungu Lembu dapat menjadi perwakilan maki-makian dari sanak saudaranya yaitu orang-orang Banjaran Waru.

Sungu Lembu sesungguhnya dapat menjadi proyeksi manusia-manusia lain yang mengalami nasib yang sama seperti dirinya. Aksi mengumpat dari orang-orang kalah atau yang ingin membalas dendam seringkali dijumpai dalam kehidupan nyata. Bahkan mengumpat itu sendiri bisa menjadi bentuk perlawanan paling jujur dan jitu sebab orang-orang yang menindas itu tidak lagi memiliki kemanusiaan di dalam dirinya atau menurut cacian Sungu Lembu sebagai “anjing”. Manusia-manusia yang meng-anjing-kan dirinya adalah mereka yang melakukan kejahatan atau menghancurkan sesamanya. Dalam hal ini Hannah Arendt berpendapat bahwa orang-orang yang bertindak jahat adalah mereka yang gagal untuk berpikir dan menilai (thoughtlessness) atau setara dengan “anjing” seperti yang sering diumpat oleh Sungu Lembu sendiri.

Tentu saja keberlanjutan dari kisah dongeng ini tidak berhenti pada upaya membalas dendam yang dilakukan oleh Sungu Lembu. Ia hidup tidak hanya oleh dendam yang masih diperjuangkan, tetapi oleh cinta sebagai bagian integral dari kehidupannya. Dalam ziarah membalas dendam itu, Sungu Lembu kerapkali terlibat dalam aksi percintaan yang luar biasa meskipun kebanyakan kategori cinta sesaat dengan wanita-wanita yang dijumpainya. Di antara para wanita yang terlibat itu hanya dua orang wanita yang bisa menjadi takdir cintanya. Pertama, Nyai Manggis sendiri. Ia mencintai perempuan itu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam hidupnya. Akan tetapi, usia Nyai Manggis tidak berlangsung lama dan tidak sempat menyaksikan kemenangan Sungu Lembu untuk menggorok Watugunung. Bagi Sungu Lembu darah Nyai Manggis dan darahnya telah menyatu sungguh-sungguh untuk membunuh Watugunung. Kedua, seorang wanita yang bernama Melur. Sungu Lembu mengalami cinta pertama dalam hidupnya dengan Melur kemudian meninggalkannya begitu saja demi sebuah misi mengincar Watugunung. Namun, pelabulah cinta Sungu Lembu justru kembali kepada Melur yang menjadi pengalaman cinta pertamanya itu. Sungu Lembu merasa sangat beruntung sekali mendapatkan Melur sebab ia lebih mencintai dirinya ketimbang lelaki lain yang juga pernah membuntingi dirinya.

Yusi Avianto Pareanom sangat lincah dalam mengisahkan perjuangan Sungu Lembu dan berbagai kisah menarik lain di dalamnya. Yusi sendiri begitu kaya dengan bebagai khazanah dalam meracik dongeng ini dari masa-masa yang berlainan. Sebuah dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis, dan maki-makian Anda dalam waktu yang berdekatan – mungkin bersamaan. Setelah membaca novel ini Anda bisa meniru keganjilan Raden Mandasia yang gemar menyembelih sapi dan bagaimana cara mengolah makanan terbaik sebab di dalamnya juga kita bisa menikmati tamasya kuliner. Bahkan umpatan “anjing” yang khas dari Sungu Lembu pun bisa jadi merasuk begitu saja dalam diri Anda atau sekurang-kurangnya Anda juga pernah melakukannya dengan kata yang sama atau kata-kata umpatan lainnya yang Anda gemari.***

Standar

SASTRA DALAM KESEKARANGAN

 

 

“De plicht van een mens in mens te zijn –

tugas manusia adalah menjadi manusia” ( Multatuli).

Sastra dan panggilan kebersastraan merupakan pembacaan eksistensial kehidupan manusia. Ia menyangkut manusia dengan segala kandungan hakikat dan problem di dalamnya. Sastra dalam konteks ini tidak lagi berkutat dalam tataran ilmu ortodoksi melainkan mendarat dalam suatu otopraksis. Pembacaan yang mendalam terhadap realitas kehidupan manusia itu tidak hanya melibatkan logika, tetapi juga hati nurani yang utuh. Logika bersastra bisa menjadi acuan untuk melihat secara kritis dan revolutif terhadap kenyataan hidup manusia. Selanjutnya eksistensi hati nurani diperuntukkan untuk menguji daya kemanusiaan yang manusiawi. Ia menjelma dalam nilai empati, keadilan, kejujuran, dan pembelaan yang konkret terhadap manusia itu sendiri.

Keberpihakan menjadi salah satu kekhasan keberadaan sastra dalam ziarah kehidupan manusia. Sastra memihak manusia ketika berhadapan dengan kenyataan yang memenjarakan manusia. Pencaplokan kebebasan, penjajahan, penindasan, kemiskinan, pelecehan harkat dan martabat merupakan sederetan soal yang mesti dicatat dan diperjuangkan dalam kesusateraan. Mengenai hal ini Multatuli pernah mengafirmasi bahwa tugas seorang manusia adalah untuk menjadi manusia. Panggilan bersastra bisa menjadi panggilan mulia untuk mewujudkan apa yang pernah dilirihkan oleh Multatuli. Bersastra bisa menjadi cara yang manusiawi untuk memanusiakan manusia itu sendiri.

Pramodya Ananta Toer, seorang sastrawan terkemuka yang pernah dimiliki oleh bangsa Indonesia pernah menyatakan bahwa panggilan hidupnya untuk menulis adalah untuk melakukan perlawanan dan mengajak orang untuk melawan. Perlawanan berarti suatu upaya manusiawi untuk membebaskan diri dari suatu cangkang penindasan dan pembredelan harkat dan martabat sebagai manusia. Lebih lanjut ia bersuara dengan lantang bahwa sastra semestinya menanggung tanggung jawab sosial terhadap kemanusiaan universal. Pramodya Ananta Toer telah membuktikan itu dengan suatu  dedikasi dan totalitas untuk membebaskan manusia melalui sastra.

Selain Mencatat, Sastra Melawan Amnesia akut

Manusia mengalami multidimensi pengalaman yang terangkai dalam zirah hidupnya. Keberadaannya dipenuhi oleh sekian fakta dan imajinasi yang membentuk dan menegaskan ‘adanya’. Fakta penderitaan adalah suatu kenyataan yang hadir secara lahiriah dan rohaniah. Pergulatan dan kegelisahan batin untuk mencari kebenaran dan kebahagiaan adalah jenis penderitaan rohaniah-internal sedangkan secara lahiriah-eksternal dapat berupa pengalaman ketidakadilan dan penindasan struktural. Dalam hal ini keberadaan sastra dapat menjadi jalan yang membebaskan manusia dari dua belenggu yang menimpanya.

Karya-karya besar para sastrawan dunia juga tidak terlepas dari suatu keprihatinan untuk melawan aneka penderitaan yang dialami oleh orang-orang di sekitarnya. Sebagai misal Salman Rushdie yang berkarya untuk membela hak-hak etnis minoritas Kurdi, Mo Yan yang pernah menulis The Garlic Ballads (1988) mengisahkan para petani bawang berjuang menentang para pejabat korup, Nadine Godimer yang menulis The Conservationist sebagai bentuk protes terhadap politik apartheid, dan masih banyak lagi. Panggilan untuk berkarya bagi para sastrawan itu terbentang sebagai aksi konkret untuk membebaskan manusia dari segala kenyataan yang tidak manusiawi.

Bersastra merupakan jalan luhur untuk mengembalikan manusia dari kungkungan dan pemenjaraan jati dirinya. Saat kekuasaan menggeliat dan memporak-porandakan manusia, maka perjuangan sastra mesti menjadi lebih berani dan terbuka. Ia hadir untuk membela serentak mengangkat kembali harkat dan martabat manusia. Perjuangan  melalui sastra juga tidak hanya berhenti pada tahap perlawanan, tetapi mesti terus bertahan untuk merawat kenangan. Penderitaan itu tidak boleh dilupakan melainkan dikenang sebagai suatu post-factum yang mengantar kesadaran kolektif manusia untuk tidak mengulangi lagi kenyataan pilu yang telah berlalu.

Kesekarangan Sebagai Locus

Kata sekarang mengindikasikan fakta tentang waktu yang benar-benar dan sementara berlangsung. Ia dikategorikan sebagai suatu tempus yang berada di antara waktu lampau dan waktu yang akan datang. Sekarang mengandung kejadian nyata. Dalam hal ini manusia yan berposisi sebagai subjek waktu sedang mengalami dan terlibat di dalam ‘sekarang’ itu. Adapun pengertian kesekarangan sebagai locus mengandung pengertian terdapatnya muatan unsur tempat di mana sesuatu yang benar-benar terjadi berlangsung di dalamnya. Lalu apa hubungan sastra dalam kesekarangan?

Pertanyaan ini dapat dijawab dengan baik apabila memutuskan bahwa sastra mesti berlangsung dalam waktu ‘sekarang’. Sastra dalam kesekarangan itu merupakan rangkaian kejadian yang berlangsung dari waktu lampau dan yang akan datang. Aneka peristiwa yang sedang dan benar-benar terjadi di dalamnya merupakan titik di antara yang sudah berlalu dan yang akan terjadi. Berkaitan dengan hal ini dapat dirumuskan dan diakui bahwa aneka peristiwa yang mewarnai hidup dan kehidupan manusia selalu berkenyataan kontinu. Manusia sebagai subjek sejarah ada dan mengalaminya.

Paul Budi Kleden mengafirmasi hal ini di mana bentuk-bentuk penderitaan yang menimpa manusia dalam waktu yang lampau hadir sebagai kenangan. Dalam arti kenangan adalah momen penghadiran yang terjadi karena desakan masa lampau ke masa sekarang. Demikianlah sastra memposisikan dirinya dalam sesuatu yang ‘sekarang’ untuk menghadirkan kembali kenangan peristiwa sebagai pijak refleksi ontologisnya menuju masa depan. Sastra yang selalu dalam ‘sekarang’ menempatkan manusia untuk kembali ke dalam dirinya yaitu menjadi manusia dalam adanya. Manusia yang tidak lupa mesti berada dalam kesekarangan untuk menoleh ke masa lampau dan siap melangkah ke masa depan dengan memilih dan memilih apa yang layak untuk keberlangsungan hidupnya.

Suatu kali Gabriel Garcia Marquez berujar; “Kita bisa memiliki apa yang kita inginkan, tetapi kita harus memperjuangkannya agar bisa menikmatinya dengan layak.” Kebersastraan manusia dalam kesekarangannya patut memperjuangkan hal-hal yang dikehendakinya dengan mengacu pada alur kenangannya di waktu lampau. Kebersastraan yang demikian menjembatani manusia untuk mengatakan apa yang terjadi di waktu lampau dan mengambil kepastian untuk menjalani kehidupan yang akan datang. Tentu saja manusia tidak akan berhenti dan puas dengan kenyataan yang ada sebab ia selalu merasa ada yang kurang di dalam hidupnya. Dalam hal ini bersastra dapat menjadi jalan yang membebaskan manusia dari segala penderitaan menuju kemerdekaan dalam hakikatnya, yang berarti manusia menghayati dengan baik tugasnya untuk menjadi manusia.***

 

Standar