MENGUMPAT SEBAGAI BAGIAN DARI DENDAM YANG PADAM DAN CINTA YANG TAK SELESAI

Judul : Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi

Penulis : Yusi Avianto Pareanom

Penerbit : Banana

Tebal : 450 halaman

ISBN : 978-979-1079-52-5

Cetakan : I, Depok, Maret 2016

Permulaan kisah dalam novel ini sebagai berikut; “Ambillah pisau dan daging paha sapi atau paha kambing yang tergantung di dapurmu. Tusukkan pisau ke daging. Bagaimana bunyinya? Jika tak ada daging, keluarlah ke kebun, cari pohon pisang, tikam batangnya. Jika kau tak juga mendapati pohon itu, bahkan pisau pun tak punya, kau kehilangan kesempatan mendengarkan salah satu bunyi paling empuk di telinga: jleb!”

Yusi Avianto Pareanom membuka keseluruhan dongeng ini dengan begitu apik dan memesona. Kecerdasan Yusi dalam menceritakan sebuah dongeng justru mulai diperlihatkan pada awal kisah. Permulaan dongeng sekilas tampak sederhana, tetapi mampu memancing hasrat keingintahuan pembaca tentang keberlanjutan cerita-cerita di dalamnya. Membayangkan bunyi  “jleb!” yang keluar dari gumpalan daging atau sebatang pohon pisang adalah sebuah pekerjaan yang sia-sia dan konyol. Bagaimana mungkin, sebuah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran itu harus dimulai dengan mengambil sebuah pisau dan mencari gumpalan daging atau pohon pisang. Sebab belum tentu pekerjaan itu bisa sukses dalam sekali tusukkan untuk menghasilkan bunyi paling konyol yang konon dinyatakan sebagai bunyi paling empuk di telinga.

Pada kisah awal Malam Celaka Yusi mempertontonkan adegan pengejaran terhadap Sungu Lembu dan Raden Mandasia pada suatu malam karena tertangkap basah sedang mencuri. Dalam pengejaran tersebut Sungu Lembu dan Raden Mandasia dihujani dengan berbagai tembakkan panah sampai akhirnya berhasil diringkus. Aneka siksaan kemudian menyusul seolah-olah tindakan mereka setimpal dengan darah yang mesti muncrat dari tubuh mereka. Sesungguhnya Sungu Lembu – yang menjadi tokoh pertama dalam novel ini – tidak ikut menanggung beban sial tersebut jika ia tidak memanut saja ajakkan Raden Mandasia untuk mencuri sapi milik Kerajaan Gilingwesi.

Raden Mandasia merupakan pangeran kedua belas Kerajaan Gilingwesi. Namun, ia memiliki kebiasaan ganjil – entah warisan dari  dewa atau setan apa – yaitu mencuri sapi. Kegemaran menggasak sapi yang dilakukan Mandasia sangat aneh terutama dalam ketegori mencuri. Sesungguhnya ia hanya menebas seekor atau beberapa sekaligus hanya untuk mengambil bagian lulur dengan cara yang tak lazim. Ia memotong seekor sapi dengan menggunakan pisau lengkung besar menyerupai golok, tetapi darahnya tidak pernah menetes sedikitpun dari leher sapi tersebut. Menurut kesaksian Sungu Lembu, Raden Mandasia sangat cekatan dan ahli dalam urusan membelah daging sapi. Bahkan Raden Mandasia sendiri memberi testimoni bahwa bagian lulur pada seekor sapi jika diolah dengan bumbu-bumbu yang pas kemudian dibakar setengah matang akan membuat para penikmatnya merasakan kedamaian adikodrati dengan Sang Penciptanya atau paling kurang mensyukuri bahwa ia memperoleh anugerah termahal karena ia tidak salah pantang daging.

Sementara itu, Sungu Lembu sendiri sebenarnya memiliki misi rahasia ketika datang ke Kerajaan Gilingwesi. Ia ingin menyatakan aksi balas dendam pribadi serentak mewakili orang-orang bekas kerajaan Banjaran Waru yang konon menjadi daerah taklukan Gilingwesi di bawah pimpinan Prabu Watugunung. Ia bercita-cita memenggal kepala pimpinan Kerajaan Gilingwesi itu sehingga ia mesti merapat ke sana. Namun, sebuah takdir justru mempertemukan dirinya dengan salah satu anak Watugunung bernama Raden Mandasia sampai terlibat dalam sebuah kejadian paling dongkol yaitu peristiwa penangkapan dirinya dan Mandasia pada malam hari karena menyembelih sapi istana.

Karakter tokoh sentral dalam dongeng ini mulai muncul dengan kekhasan masing-masing. Jika Raden Mandasia gemar mencuri sapi, maka Sungu Lembu sendiri mempunyai kebiasaan manusiawinya dengan mengumpat: Anjing. Anjing sekali. Benar-benar anjing! Hal itu sungguh wajar karena ia dalam upayanya mewujudkan aksi balas dendam tersebut justru seringkali menanggung kesialan-kesialan yang membuatnya sering mengumpat dengan kata “anjing!” baik secara langsung maupun didengungkan saja dalam hatinya.

Pada kisah Rumah Dadu Nyai Manggis Sungu Lembu mulai menerangkan identitasnya kepada seorang majikan rumah dadu bernama Endang Projowati. Pertemuan keduanya berlangsung alamiah sampai Sungu Lembu menaruh hati pada pemilik rumah dadu tersebut meskipun perbedaan usianya berjarak dua kali lipat saat dirinya berusia enam belas tahun. Sungu Lembu lahir di Banjaran Waru yang merupakan kerajaan taklukan Gilingwesi. Sesungguhnya Banjaran Waru tetap menjadi kerajaan yang punya harga diri seandainya Merak Abang yang memimpin daerah itu tidak patuh begitu saja pada kekuasaan Gilingwesi. Namun, Merak Abang tidak ingin menimbulkan korban atau kerugian bagi dirinya atau rakyat Banjaran Waru apabila ia terlebih dahulu melawan. Tentu saja hal tersebut menjadi pertimbangannya karena selama ini banyak kerajaan-kerajaan lain yang berusaha melawan, tetapi kalah dan rajanya langsung dihukum mati. Sebagain besar rakyat Banjaran Waru menggerutu dalam hatinya sebab mereka mungkin saja bisa menghalau kesewenang-wenangan Gilingwesi jika pimpinannya tidak menyerah segampang itu.

Di sisi lain Nyai Manggis, sapaan manis dari Raden Mandasia untuk Endang Projowati, juga mengungkapkan jati dirinya. Ia terdampar di rumah dadu tersebut karena diangkut oleh para prajurit Gilingwesi saat dirinya masih berusia remaja. Bahkan sebab utama penaklukan Banjaran Waru bermula dari kekacauan para prajurit bebal itu yang ingin ‘menikmatinya’. Hal itu justru semakin mempertebal hasrat membalas dendam dari Sungu Lembu terhadap Gilingwesi setelah mendengar kisah hidup Nyai Manggis. Tentu saja umpatan-umpatan “anjing” yang bermuasal dari hati Sungu Lembu semakin menggelora sepanjang niat membalas dendamnya itu belum terpenuhi.

Membaca novel ini semakin memastikan bahwa umpatan “anjing” yang muncrat begitu saja dari mulut Sungu Lembu hendak menyatakan jati dirinya yang sejak lahir sudah ada darah untuk membalas dendam kepada Gilingwesi. Sepanjang kesialan-kesialan yang menimpa dirinya dalam mewujudkan cita-cita luhurnya itu pasti diumpat dengan kata “anjing” meskipun “anjing” yang sesungguhnya adalah Prabu Watugunung. Rupanya pedang paling tajam untuk menyabet leher Watugunung untuk pertama kali adalah dengan mengumpatnya seketika dengan kata “anjing”. “Anjing” yang hidup dan keluar dari mulut Sungu Lembu dapat menjadi perwakilan maki-makian dari sanak saudaranya yaitu orang-orang Banjaran Waru.

Sungu Lembu sesungguhnya dapat menjadi proyeksi manusia-manusia lain yang mengalami nasib yang sama seperti dirinya. Aksi mengumpat dari orang-orang kalah atau yang ingin membalas dendam seringkali dijumpai dalam kehidupan nyata. Bahkan mengumpat itu sendiri bisa menjadi bentuk perlawanan paling jujur dan jitu sebab orang-orang yang menindas itu tidak lagi memiliki kemanusiaan di dalam dirinya atau menurut cacian Sungu Lembu sebagai “anjing”. Manusia-manusia yang meng-anjing-kan dirinya adalah mereka yang melakukan kejahatan atau menghancurkan sesamanya. Dalam hal ini Hannah Arendt berpendapat bahwa orang-orang yang bertindak jahat adalah mereka yang gagal untuk berpikir dan menilai (thoughtlessness) atau setara dengan “anjing” seperti yang sering diumpat oleh Sungu Lembu sendiri.

Tentu saja keberlanjutan dari kisah dongeng ini tidak berhenti pada upaya membalas dendam yang dilakukan oleh Sungu Lembu. Ia hidup tidak hanya oleh dendam yang masih diperjuangkan, tetapi oleh cinta sebagai bagian integral dari kehidupannya. Dalam ziarah membalas dendam itu, Sungu Lembu kerapkali terlibat dalam aksi percintaan yang luar biasa meskipun kebanyakan kategori cinta sesaat dengan wanita-wanita yang dijumpainya. Di antara para wanita yang terlibat itu hanya dua orang wanita yang bisa menjadi takdir cintanya. Pertama, Nyai Manggis sendiri. Ia mencintai perempuan itu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dalam hidupnya. Akan tetapi, usia Nyai Manggis tidak berlangsung lama dan tidak sempat menyaksikan kemenangan Sungu Lembu untuk menggorok Watugunung. Bagi Sungu Lembu darah Nyai Manggis dan darahnya telah menyatu sungguh-sungguh untuk membunuh Watugunung. Kedua, seorang wanita yang bernama Melur. Sungu Lembu mengalami cinta pertama dalam hidupnya dengan Melur kemudian meninggalkannya begitu saja demi sebuah misi mengincar Watugunung. Namun, pelabulah cinta Sungu Lembu justru kembali kepada Melur yang menjadi pengalaman cinta pertamanya itu. Sungu Lembu merasa sangat beruntung sekali mendapatkan Melur sebab ia lebih mencintai dirinya ketimbang lelaki lain yang juga pernah membuntingi dirinya.

Yusi Avianto Pareanom sangat lincah dalam mengisahkan perjuangan Sungu Lembu dan berbagai kisah menarik lain di dalamnya. Yusi sendiri begitu kaya dengan bebagai khazanah dalam meracik dongeng ini dari masa-masa yang berlainan. Sebuah dongeng kontemporer yang memantik tawa, tangis, dan maki-makian Anda dalam waktu yang berdekatan – mungkin bersamaan. Setelah membaca novel ini Anda bisa meniru keganjilan Raden Mandasia yang gemar menyembelih sapi dan bagaimana cara mengolah makanan terbaik sebab di dalamnya juga kita bisa menikmati tamasya kuliner. Bahkan umpatan “anjing” yang khas dari Sungu Lembu pun bisa jadi merasuk begitu saja dalam diri Anda atau sekurang-kurangnya Anda juga pernah melakukannya dengan kata yang sama atau kata-kata umpatan lainnya yang Anda gemari.***

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s