KESESATAN !

 

“Apa yang kalian sebut kebenaran?

Kesesatan yang berabad-abad usianya.

Apa itu kesesatan?

Kebenaran yang dialami hanya semenit” – Spinoza.

 

Kesesatan! Saya mengalami kebingungan akut ketika memikirkan judul terbaik dalam tulisan ini. Memilih judul seperti yang tertempel di atas merupakan hasil dari sebentuk proses kesesatan. Tetapi saya bisa menikmatinya atau harus menganggapnya senikmat mengunyah permen Mintz yang tidak terlalu baik untuk kesehatan karena lebih banyak menimbulkan flu dan mega-megap. Tentu saja ini secuil dari tumpukan pengalaman saya ketika pertama kali masuk sebuah rumah makan hanya ingin merasakan sensasi lain. Saat itu saya tidak datang dengan seorang perempuan, tetapi saya menyaksikan ada begitu banyak perempuan berderet menanam pantat mereka di kursi panjang.

Jangan terlalu serius dengan hidup ketika Anda diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini. Keseriusan yang direkayasa atau paling kurang secara terpaksa merupakan sejenis aliran penyakit. Banyak di antara kita yang mengidap hal ini. Penyakitan karena terlalu serius. Padahal hidup itu begitu sederhana. Hanya menghirup dan menghembuskan napas. Siapa yang pernah melihat kematian seseorang dalam keadaan sekarat? Seseorang yang hendak mati karena telah sekarat dan berkarat sekalipun pasti sangat menikmati detik-detik terakhir dalam hidupnya. Sementara orang-orang sehat di sekitarnya terkadang mengalami sesak napas dan jantung yang tidak terlalu sedap dalam mengeluarkan bunyi.

Opa Baruch de Spinoza yang hidup dari tahun 1632-1677 tidak terlalu merepotkan diri dalam menjalani kehidupannya. Lelaki yang lahir di Amsterdam pada 24 November ini hidup dalam suatu tradisi takhayul dan tabu-tabu religius yang diwariskan oleh nenek moyang dan orang-orang idiot di sekitarnya. Ia tidak puas apalagi betah dengan keadaan seperti ini. Secara perlahan dan bersungguh-sungguh ia berusaha membebaskan diri dari kegelapan ini. Ia ingin mengecap kebebasan berpikir. Pemberontakan terbesar yang pernah dilakukannya ketika ia dengan penuh keberanian menentang alam berpikir orang-orang idiot di sekitarnya yang tidak maksimal dalam berpikir.

Suatu ketika ia dibabat oleh orang-orang di sekitarnya dengan sebuah kutukan. Hal itu bermula dari tindakannya yang dianggap ceroboh dan berbahaya menurut teman-teman dan sejumlah tokoh agama pada masanya. Ia berpendapat bahwa malaikat hanyalah fiksi belaka dan Allah itu bersifat material. Bukankah tindakan seperti ini bagai pedang yang menggorok ketebalan jenggot para pemuka agama saat itu?

Ia dikutuk karena pikirannya yang menyesatkan. Tidak selesai sampai di situ, ia masih dikucilkan dari masyarakatnya. Pikiran-pikiran Spinoza hampir-hampir membuat para tokoh agama Yahudi mengalami kegelisahan tak terperikan. Dalam suatu kesempatan pula ia hampir mati tertikam pisau oleh seorang Yahudi fundamentalis dengan tujuan untuk menyenangkan hati Yahwe. Bukankah ini sebuah kesesatan yang sangat mencekam? Membunuh dengan modus menghibur Allah. Yang ini jelas-jelas sebuah libido dominandi.

Lebih menyakitkan lagi ketika ia dibuang oleh keluarganya sendiri. Ia dianggap mati. Namun ia menghadapi semua kebencian dan kemurkaan para pemuka agama, teman-teman, dan keluarganya sendiri dengan hati yang tenang dan santai. Ia tidak peduli dengan usaha-usaha konyol dari orang-orang idiot di sekitarnya. Terutama para pemuka agama yang sudah terlampau sesat dalam kegelapan yang paling gelap.

Sesuatu yang luar biasa dari Spinoza adalah kesetiaan untuk merawat dan mengabadikan pikiran-pikirannya. Ia mencintai serat-serat pikirannya sebanding dengan kualitas ketikdakpeduliannya pada orang-orang yang membencinya. Itulah Spinoza yang pernah mendapat tawaran dari sebuah universitas, tetapi ditolaknya dengan santai sebab itu sangat merugikan dirinya. Ia hanya setia dan tekun memelihara ide-idenya demi memperbaiki pikiran dari sebagian besar umat manusia yang sudah terlanjur tercebur dalam kesesatan.

Saya seringkali mengingatkan diri sendiri ketika dalam kesempatan hening bahwa ada kesesatan yang kadang tidak terdeksi dan saya sudah terjebak di dalamnya. Sebagai contoh, saya menilai sejumlah perempuan di warung makan tadi terlalu serius menanam pantat di kursi. Bukankah ini juga sejenis kesesatan yang barangkali hampir sama kualitasnya dengan para pemuka agama kita?

Saya tidak ingin Anda yang membaca tulisan ini ikut tersesat. Apalagi kalau saya mendapat kutukan manis dari Anda bahwa saya adalah orang yang amat tersesat. Tentu tidak dan sama sekali tidak saya harapkan. Kalau hal itu benar-benar terjadi, saya juga akan menganggap Anda lebih tersesat. Saya juga sering menduga bahwa orang-orang di sekitar kita terlalu amat sering tenggelam dalam kesesatan baik yang disadari maupun tidak. Itulah kesesatan dari sekian kesesatan yang melanda dan bergelimpangan meriahnya.

Suatu kali sebuah bangsa(t) Indonesia sedang mengalami begitu banyak kesesatan. Kesesatan yang sangat mencekam dan mengerikan. Saling meringkus dan meringkas. Saling melempar dan bersembunyi. Kemudian karangan bunga diletakkan sebagai ucapan belasungkawa atas bangsa(t) Indonesia yang sedang tersesat ini.

Itu saja yang bisa saya tuliskan kali ini. Semoga kita tidak mengalami hal-hal yang sungguh-sungguh menyesatkan!

 

Salam dan Doa!

 

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s