TIDAK PERLU GELISAH DI HADAPAN CERMIN

Aku ingin mengajak anda untuk berwisata di Telaga Pikiran yang berlokasi di kepalaku sendiri. Pertama-tama anda tidak boleh keberatan dengan ajakan ini. Sebab ini kali terakhir tiket perjalanan sia-sia dibuka secara gratis. Sebuah keberuntungan yang tidak terulang lagi untuk kali kedua dalam kebebalan hidup anda. Tanggalkan pikiran semrawutmu itu dan lekaslah segera untuk berangkat bersamaku. Tentu anda tahu bahwa setiap manusia mempunyai pikirannya sendiri-sendiri, aku dan anda. Tetapi pikiranmu sudah tidak ada lagi. Aku selalu ada dengan pikiranku. Begitu pula sebaliknya.

Aku adalah lelaki. Tidak sembrono atau apa pun yang ada di galon kepalamu itu. Semestinya engkau menggunting kepalamu sekarang juga. Tidak perlu berbasa-basi sebab hal itu hanya  semakin mempercantik ketololanmu di hadapanku yang licik.

Aku adalah lelaki!

***

“Minak, apakah engkau pernah berdandan di hadapan cermin yang retak-retak?” celetuk Mintuk kepada kekasih yang baru dipacarinya sehari lalu dan berniat menggoroknya selama sepuluh hari ke depan.

“Iya Bang. Seorang perempuan seperti aku pasti selalu bercermin. Ibuku yang sudah meninggal tiga ratus tahun lalu pernah memberikan cermin kepadaku saat aku berusia tiga bulan,” jawab Minak kepada kekasih yang dianggapnya seperti gelas pecah-pecah itu.

***

Pertengahan cerita ini menyelipkan kewibawaan seorang ibu yang memilih bunuh diri di hadapan seorang cermin yang meremukannya berkeping-keping. Seorang ibu tulen yang pernah membunting sembilan belas anak kembar di dalam rongsokan perutnya. Suaminya adalah seorang cermin yang menjadi lelaki gelap sepanjang usianya. Ia mati sebagai seorang martir disaksikan oleh seorang cermin, lelaki yang retak-retak.

Lelaki yang menjelma seorang cermin selalu alpa setiap kali Ibu sembilan belas anak kembar itu bergairah, entah malam entah siang. Gelap dan kabut menjadi mata-mata yang bertiarap di sela-sela ketiaknya. Dunia ini bagaikan neraka dan sungguh jahanam. Kebengisan meliuk-liuk di leher Ibu sembilan belas anak kembar itu entah kapan saja ketika mimpi basah tidak lagi mencuat selokan selangkangannya. Ibu sembilan belas anak kembar itu paham betul semua soal yang menimpa dirinya dan bagaimana ia menikmati partikel-partikel kentutnya sendiri saat sedang melahirkan sembilan belas anak kembar yang tidak terlalu buruk rupa seperti yang diduga banyak orang. Tentu saja hal ini tidak berlaku pada suami Ibu sembilan belas anak kembar itu. Ia tidak paham tentang kecantikan perempuan mana pun. Itulah alasan bagi sang Ibu untuk mencintai sekaligus membenci suaminya secara serempak.

***

Kita baru saja melewati pertengahan perjalanan cerita ini menuju pikiranku. Kelelahan atau kehausan yang sengaja diciptakan tidak diizinkan dalam perjalanan ke sana. Itu hanya semakin memboroskan anggaran saja. Tujuan kedatangan kita ke sana hanya untuk memastikan apakah kehidupan seorang perempuan yang pernah membocorkan sembilan belas anak kembar itu tidak pernah tua atau sekurang-kurangnya masih hidup.

Sejarah yang diwariskan oleh begundal moyang kita hanyalah sebagian kebenaran penuh kebohongan belaka. Sepanjang kita hidup perempuan-perempuan yang manis-manis selalu ditimbang dari seberapa sering ia bersolek di depan cermin tentunya. Aku sendiri tidak bermaksud memaki kepengapan borok-borok moyang kita sekarang. Alangkah baiknya ditunda saja sampai kita benar-benar menemukan kebenaran sendiri sesampainya di tempat tujuan kita.

***

Dunia ini begitu sempit. Hanya sebatas dan sejauh mata lelaki memandang. Yang terpanjang pun hanya kalau lelaki-lelaki itu mulai mengajak brengsek perempuannya di hadapan cermin-cermin retak. Aku sering menemukan keanehan-keanehan yang masuk akal dan membuatku lari terbirit-birit sambil mengencingi muka sendiri. Suatu ketika entah kapan aku menemukan seonggok kekasih saling memuji yang disaksikan oleh seorang yang lain tentunya: cermin.

Sampai di sini aku selalu menganggap cermin adalah jelmaan seseorang yang muncul begitu saja di dunia kita. Boleh dibilang di luar skenario, tetapi penting untuk diulas dalam cerpen ini. Perempuan itu meraba-raba dirinya di hadapan cermin. Kutangnya dikencangkan sambil memastikan tirai yang menutup dinding bokongnya tertutup rapat. Tentu hal ini semakin membuat gumpalan bokongnya sesak napas. Apalagi potongan kain yang dipakainya sangat sumpek. Tidak ada kemerdekaan di sana, bagi tubuh perempuan itu maupun bagi kain itu sendiri. Sementara cermin itu hanya bergumam saja dalam hatinya tanpa bersuara apa pun.

Ia memutar tubuhnya bolak-balik seperti seorang penari balet yang hampir terpeleset karena salah mendarat. Tidak puas dengan itu, ia membelokkan lehernya hampir searah bahu kirinya sekedar untuk meneliti kemiringan dan keruncingan bokongnya. Sebab kalau tidak ia pasti mengumpat, anjing! kepada seorang cermin yang gagal menjadi juri baginya.

Selama delapan belas jam lamanya, perempuan itu sibuk mengukir dirinya di hadapan seorang cermin. Di luar ramalannya, tiba-tiba saja dirinya terbelit dan memperhatikan ia dikebiri begitu saja oleh seorang yang  lain yang disebut kekasihnya itu, lelaki peranakan batu kapur yang terdampar di hutan dan menyelusup masuk ke pemukiman hanya untuk mencekik pantat perempuan itu. Ini sejenis kemaluan yang sudah kebal malu dan membuat kepalaku bengkak hampir bertahun-tahun. Ia mengerat sepenuhnya bagian belakang tubuhnya hingga perempuan itu lunglai dan beku. Jiwanya tidak lagi bersemayam di dalam tubuhnya sebab tubuhnya itu penuh dengan kebopengan dan kepalsuan lipstik serta aneka bumbu pengawet buatan pabrik. Sebuah penyelidikkan pihak berwenang setempat mencatat bahwa alasannya cukup menggelikan otot perut. Seorang lelaki yang sudah diungkapkan identitasnya di awal cerpen ini sungguh-sungguh membenci cermin yang menjuri kecantikan perempuannya, tetapi ia memelihara cermin lain di dalam dirinya.

***

Sudah hampir empat puluh tahun Minak merayakan usianya. Tubuhnya sedikit memancarkan kelapukan. Rambutnya berwarna kebingungan. Ia selalu sungkan dan segan terhadap perempuan lain, kadang pula kepada lelakinya.  Keuzurannya hanya menampilkan penundaan untuk diseberangkan oleh petugas piket dari neraka atau surga yang tampak selalu terlibat dalam perkelahian berdarah-darah sampai benar-benar memborgol tamu istimewanya ke apartemen masing-masing.

Setiap hari ia dan Mintuk mengalami peningkatan indeks kebahagiaan. Kerapkali keduanya saling mencubit ujung hidung atau mengukur diameter lubangnya. Yang paling sering Mintuk diminta mencukur semua jenis kategori bulu yang menjalar liar di segala liang terutama bagian ketiaknya. Jika Mintuk usai menunaikan kewajiban sukarelanya, Minak pasti meneliti kembali apakah sudah  sungguh-sungguh gundul atau masih perlu dibabat lagi oleh Mintuk. Bagi mereka hidup itu terasa berongga kosong kalau tidak disertai dengan aksi saling mencubit dan mengukur diameter hidung. Aksi mencukur segala kategori bulu pada tubuh Minak tidak termasuk romantisme surealis yang sesungguhnya karena hanya dilakukan oleh Mintuk sendiri tanpa pernah meminjam kedua tangan gaib pemilik bulu-bulu itu.

Perasaan Mintuk semakin membuncah di hadapan kekasihnya. Tentu saja  Mintuk tidak terlalu merepotkan dalam menyebut Minak sebagai kekasih atau isterinya. Baginya Minak tetaplah Minak. Bahkan Minak pernah menghadiahi dirinya kutang kembar. Satu untuk dipakai Minak dan satunya lagi digantung di dinding. Hal ini patut disyukurinya dari pemberian Minak. Bila Mintuk hendak menggenggam Minak, ia wajib mengenakan kutang kembaran itu. Itulah peraturan dalam rumah tangga reot yang lebih pantas disebut bukan rumah tangga itu.

Suatu malam yang tidak terlalu gelap, Minak bangkit dari kematian mimpinya. Ia bergegas begitu saja mencari kembali potongan cermin yang pernah diberikan oleh ibunya. Entahlah. Cermin secara kodratiah selalu beruntung daripada yang penulis atau pembaca cerpen ini dalam menyaksikan kebugilan perempuan mana pun di dunia ini. Selalu begitu dan ini pula yang sedang terjadi pada diri Minak. Malam itu ia merasa dirinya digorok oleh suaminya berkali-kali. Anehnya lehernya tidak putus-putus meskipun Mintuk menggergaji kerongkongannya. Teringatlah Minak bahwa sebelum kejadian keji itu berlangsung ia sudah melenggok di hadapan seorang cermin. Bahkan kesaktian Minak di hadapan Mintuk semakin bertambah ketika ia menyadari dirinya tidak memakai apa pun di sepanjang kelokan tubuhnya. Ia percaya cermin yang menghalaukan semua itu sehingga ia tidak terluka sedikit pun.

***

Akhirnya kita sudah tiba dengan kelengkapan tubuh di tempat yang aku maksudkan di awal kisah ini. Engkau tahu bahwa perjalanan itu ke mana pun arahnya tidak perlu terlalu berbelit-belit. Kesusahan itu akan menjadi beringas di dalam diri kita apabila kita terlampau repot pada segala sesuatu yang memalsukan keaslian diri kita. Sampai di sini kita sepakat bahwa segala sesuatu yang selalu memalsukan disebut cermin.

Hidup itu serupa kebiasaan yang tidak terlalu memerlukan ukuran dalam bentuk apa pun.

Kita akan kembali ke tempat di mana kita memulai kisah ini barang sepuluh menit menit mendatang dan tetap bersabar di dalam penantian. Nanti engkau juga akan memahami dengan baik bahwa penantian itu hanyalah cara lain mengarahkan pandangan ke bagian belakang tubuhmu. Di situ engkau menungguku sesaat saja sementara aku masih di sini sambil memulai lagi kisah sia-sia ini sedari awal. Sesungguhnya aku ditugaskan untuk merangkai keretakan sebuah dongeng dari begundal-begundal kita. Sebuah penelusuran yang sia-sia juga seperti kualitas tiket yang pernah kau peroleh.

***

 

 

 

Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s