Kebenaran Itu Ada di Seberang, di Sini Kita Hanya Memeluk Bangkainya Belaka!

Sebelum memulai basa-basi murahan ini, saya sudah pulang dari Gereja pada pagi hari tadi. Di sana saya bertemu Tuhan kita. Kata-Nya hari ini Beliau lagi kurang enak badan. Demam dan sedikit pilek. Kamu bayangkan saja jika Beliau pilek, pasti hidungnya memerah dan bersin-bersin. Tentu saja saya akan dinilai anak yang kurang sopan kalau berani menutup mulut dan hidung ketika Beliau batuk atau bersin. Sebab hal itu sama sekali tidak pantas dilakukan di hadapan Tuhan.

Kami memperbincangkan banyak hal mulai dari hal yang kacangan sampai pada persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara. Topik terakhir ini sungguh menguras energi dan konsentrasi saya. Dia lebih cenderung bermonolog. Menguasai sepenuhnya lintas pembicaraan. Saya patuh saja atau pura-pura mengerti dengan sesekali mengeryitkan kulit dahi. Seolah-olah perkataan-perkataan-Nya itu dapat saya pahami semua. Kedua tangan saya bergantian menopang dagu selama berpuluh-puluh kali. Bahkan saat itu sempat terlintas dalam benak saya untuk mendengarkan celotehan-Nya sambil tidur-tiduran di lantai. Sekali lagi saya tidak mungkin berani melakukannya. Takut mendapat tamparan atau paling banter ditendang keluar dari rumah-Nya.

Mendengarkan Beliau berbicara selama berjam-jam itu benar-benar membosankan. Terlalu kering karena tidak ada sesajian ringan yang bisa dinikmati. Kerongkongan saya menjadi getir sedangkan perut mulai berorkestra riuh. Untuk mencegah kemarahan-Nya, saya menciptakan teknik mengelabui dengan cara pura-pura batuk beberapa kali ketika misalnya mulai terdengar bebunyian dari dalam perut. Kau tahu, keringat dingin membasah di dada dan telapak tangan saya.

Sebenarnya sih saya lebih mengharapkan Beliau mempunyai inisiatif semisal menyuruh saya mengambil sendiri sebotol bir dan sebungkus roti di kulkas pribadi-Nya. Tapi itu pun belum juga muncul dari mulut-Nya. Mau pingsan di hadapan-Nya, tidak enak. Lebih baik bertahan saja. Barangkali Beliau akan berhenti dengan sendirinya atau sekurang-kurangnya kelelahan. Dalam hati saya berdoa agar hal itu sungguh-sungguh terjadi.

Entah tersebab apa, tiba-tiba Beliau merasa bahwa segala hal telah selesai diceritakan kepada saya. Ada perasaan kurang enak ketika melihat Beliau tidak ingin bicara lagi dengan saya.

“Kamu sebaiknya pulang saja. Saya sudah capek!”

“Tapi, saya masih ingin mendengarkan cerita-cerita lain dari Tuhan. Kenapa Tuhan tidak mau bercerita lagi?”

“Adakah yang salah dengan tingkah laku saya sedari tadi? Saya mendengarkan sungguh-sungguh, Tuhan. Sumpah mati!”

Beliau tetap tidak mau bicara apa-apa lagi dan menyuruh saya segera pergi dari rumah-Nya. Dalam hati saya mulai menduga-duga, jangan sampai doa saya tadi telah dikabulkan-Nya. Oh, Tuhan. Terima kasih!

Kemudian saya beranjak dari rumah-Nya dan segera berlari ke sebuah warung kecil, tidak jauh dari tempat tinggal Tuhan. Di sana saya memesan makanan sebanyak-banyaknya. Selama makan berlangsung saya mulai menceritakan sifat buruk Tuhan kepada sang pemilik warung. Mulai dari awal sampai akhir terutama kebiasaan-Nya yang suka mendominasi pembicaraan. Bahkan saya pun memberi saran kepada pemilik warung untuk jangan sekali-kali pergi ke tempat tinggal Tuhan. Saya sendiri tidak ingin penderitaan yang sama dialami oleh pemilik warung itu jika suatu saat ia berani bertamu ke rumah-Nya.

Setelah selesai makan saya merasa sangat haus sekali dan meminum air sebanyak-banyaknya pula. Saya pun tidak lupa membagikan kepada pemilik warung kiat-kiat menghindari Tuhan yang suka menciptakan kesengsaraan karena harus mendengarkan Beliau berbicara dalam waktu yang sangat lama.

Hari makin panas. Langit tak berawan sedikit pun. Tugas-tugas kuliah masih menumpuk. Saya harus pulang ke tempat tinggal saya.

Ketika saya hendak mengambil uang dari saku celana, tiba-tiba pemilik warung melarang uang itu diberikan kepadanya.

“Tidak usah. Makananmu tadi telah dibayar lunas oleh seseorang. Kamu boleh pulang sekarang.”

Si pemilik warung juga masih sempat memberikan sebotol bir untuk saya bawa pulang ke rumah. Berjaga-jaga barangkali saya mengalami  kehausan selama dalam perjalanan.

Akan tetapi, hati saya menjadi tidak tenang sepanjang perjalanan pulang. Bertanya-tanya tentang siapa sesungguhnya seseorang yang telah sudi melunasi biaya makanan saya di warung itu. Barangkali ada seseorang atau seseorang yang lain di dalam diri saya yang telah membayarnya. Jika itu Tuhan, semoga Beliau lekas sembuh dan jika seseorang yang lain, saya tidak tahu mau bilang apa kepadanya. *

*Gang Mavia, 30 September 2080.

 

 

Standar

2 respons untuk ‘Kebenaran Itu Ada di Seberang, di Sini Kita Hanya Memeluk Bangkainya Belaka!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s